Kamis, 29 Maret 2018

Rangkuman Materi Perawatan & Perbaikan Mesin


A. Perawatan dan Perbaikan Mesin
Pengertian perawatan ( maintenance ) itu sendiri dapat diartikan sebagai kegiatan untuk memelihara atau menjaga fasilitas atau peralatan pabrik dan mengadakan kegiatan pemeliharaan, perbaikan penyesuaian, maupun penggantian sebagian peralatan yang diperlukan agar sarana fasilitas pada kondisi yang diharapkan dan selalu dalam kondisi siap pakai. Berikut tujuan perawatan dan perbaikan mesin adalah:
1. Memperpanjang usia kegunaan aset. Hal ini terutama penting di negara berkembang karena kurangnya sumber daya modal untuk penggantian Menjamin keselamatan orang yang menggunakan sarana tersebut.
2. Menghemat waktu, biaya dan material karena peralatan terhindar dari kerusakan besar.
3. Kerugian baik material maupun personel akibat kerusakan dapat dihindari sedini mungkin, karena terjadinya kerusakan da atau timbulnya kerusakan tambahan akibat kerusakan awal dapat segera dicegah.

B. Peran Perawatan dan Perbaikan dalam Sistem Kesiapan Fasilitas
1.Merubah proses
2.Merancang kembali komponen yang gagal
3.Mengganti dengan komponen baru atau yang lebih baik
4.Meningkatkan prosedur perawatan preventif. Sebagai contoh, melakukan
pelumasan   sesuai ketentuannya atau mengatur kembali frekuensi dan isi daripada pekerjaan inspeksi
 5. Meninjau kembali dan merubah sistem pengoperasian mesin. Misalnya dengan merubah beban unit, atau melatih operator dengan sistem operasi yang lebih baik, terutama pada unit-unit khusus.
Tujuan utama perawatan:
1. Untuk memperpanjang umur penggunaan asset.
2. Untuk menjamin ketersediaan optimum peralatan yang dipasang untuk produksi dan dapat diperoleh laba yang maksimum.
3. Untuk menjamin kesiapan operasional dari seluruh peralatan yang diperlukan dalam keadaan darurat setiap waktu.
4. Untuk menjamin keselamatan orang yang menggunakan peralatan tersebut.


2. Klasifikasi dan Jenis Perawatan
Dalam istilah perawatan disebutkan bahwa disana tercakup dua pekerjaan yaitu istilah “perawatan” dan “perbaikan”.Perawatan dimaksudkan sebagai aktifitas untuk mencegah kerusakan, sedangkan istilah perbaikan dimaksudkan sebagai tindakan untuk memperbaiki kerusakan.
Secara umum, ditinjau dari saat pelaksanaan pekerjaan perawatan, dapat dibagi menjadi dua cara: 1. Perawatan yang direncanakan (Planned Maintenance). 2. Perawatan yang tidak direncanakan (Unplanned Maintenance). Secara skematik pembagian perawatan bisa dilihat pada gambar berikut:

A. Perawatan yang direncanakan, yaitu perawatan yang terorganisasi dilakukan dalam bentuk waktu yang panjang, terkontrol dan tercatat. Perawatan ini dilakukan dengan kebijaksanaan yang telah dipertimbangkan terlebih dahulu dengan baik. Kebijaksanaan tersebut ditetapkan secara terkontrol dan terarah untuk mendukung  rencana yang telah ditetapkan. Adanya catatan sejarah statistik untuk mengevaluasi hasil kebijaksanaan yang telah digariskan guna menetapkan kebijaksanaan selanjutnya yang lebih sempurna.

B. Perawatan yang tidak direncanakan  adalah perawatan yang dilakukan akibat adanya masalah pada suatu alat/mesin sehingga menimbulkan keadaan mendesak.
Bentuk-bentuk Perawatan :
1. Perawatan Preventif (Preventive Maintenance)
 Adalah pekerjaan perawatan yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kerusakan, atau cara perawatan yang direncanakan untuk pencegahan (preventif). Ruang lingkup pekerjaan preventif termasuk: inspeksi, perbaikan kecil, pelumasan dan penyetelan, sehingga peralatan atau mesin-mesin selama beroperasi terhindar dari kerusakan.
2. Perawatan Korektif
 Adalah pekerjaan perawatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan kondisi fasilitas/peralatan sehingga mencapai standar yang dapat diterima. Dalam perbaikan dapat dilakukan peningkatan-peningkatan sedemikian rupa, seperti melakukan perubahan atau modifikasi rancangan agar peralatan menjadi lebih baik.
3. Perawatan Berjalan
Dimana pekerjaan perawatan dilakukan ketika fasilitas atau peralatan dalam keadaan bekerja. Perawatan berjalan diterapkan pada peralatan-peralatan yang harus beroperasi terus dalam melayani proses produksi.
4. Perawatan Prediktif
Perawatan prediktif ini dilakukan untuk mengetahui terjadinya perubahan atau kelainan dalam kondisi fisik maupun fungsi dari sistem peralatan. Biasanya perawatan prediktif dilakukan dengan bantuan panca indra atau alat-alat monitor yang canggih.
5. Perawatan setelah terjadi kerusakan (Breakdown Maintenance)
Pekerjaan perawatan dilakukan setelah terjadi kerusakan pada peralatan, dan untuk memperbaikinya harus disiapkan suku cadang, material, alat-alat dan tenaga kerjanya.
6. Perawatan Darurat (Emergency Maintenance)
 Adalah pekerjaan perbaikan yang harus segera dilakukan karena terjadi kemacetan atau kerusakan yang tidak terduga.

Tujuan Perawatan :
Secara umum perawatan m,empunyai tujuan – tujuan yang menurut A. S Corder adalah  untuk :
·         Memungkinkan tercapainya mutu produksi dan kepuasan pelanggan melalui penyesuaian , pelayanan dan pengoperasian peralatan secara tepat .
·         Memaksimalkan umur kegunaan dari sistem .
·         Menjaga agar sistem aman dan mencegah berkembangnya gangguan keamanan.
·         Meminimalkan biaya produksi total yang secara langsung dapat dihubungkan dengan service dan perbaikan
·         Memaksimalkan produksi dari sumber – sumber sistem yang ada .
·         Meminimalkan frekuensi dan kuatnya gangguan terhadap proses operasi.
·         Menyiapkan personel , fasilitas dan metodenya .
·         Agar mampu mengerjakan tugas –tugas perawatan .
( A. S Corder , 92 , Hal ; 81 )

3. Jenis Pelumasan Dan Teknik Pelumasan

A.  Jenis Pelumasan
1.    Pelumas Cair
Sebagian besar pelumas oli yang beredar di pasaran dan paling banyak penggunaannya terbuat dari bahan dasar minyak bumi. Oleh karena itulah sering kali kita menyebutnya sebagai mineral oil (oli mineral), yakni oli yang berbahan dasar dari minyak bumi hasil tambang (mining). Oli mineral dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam yaitu Paraffinic, Naphtenic, dan Aromatic.
Oli parafin sangat baik digunakan pada mesin manufaktur, untuk pelumas mesin industri, serta pada proses produksi industri karet, tekstil, dan kertas. Oli naphtenic lebih cocok digunakan pada kondisi temperatur kerja rendah, terutama untuk pendingin trafo industri, serta pendingin pada proses permesinan. Sedangkan oli aromatik berwarna hitam dan sangat lazim digunakan sebagai bahan seal manufaktur, serta sebagai perekat dan pengencer produksi aspal.
Namun, Pelumas oli mineral memiliki keterbatasan paling besar yakni kurangnya ketahanan terhadap temperatur kerja tinggi. Solusi dari kelemahan tersebut adalah dibuatnya oli melalui proses sintesa sehingga didapatkan oli dengan spesifikasi terbaik sesuai dengan yang dibutuhkan. Pelumas jenis ini biasa kita kenal sebagai oli sintetis, sebab oli tipe ini tidak berasal dari minyak bumi melainkan dari bahan organik maupun anorganik yang melewati proses-proses khusus sehingga didapatkan spesifikasi yang dibutuhkan terutama ketahanan terhadap temperatur tinggi.
Perpaduan antara oli mineral dengan oli sintetis biasa disebut dengan oli semi-sintetis. Dengan campuran maksimal sebanyak 30% oli sintetis, diharapkan akan didapatkan pelumas dengan kualitas tidak jauh berbeda dengan oli murni sintetis, namun dengan harga yang lebih terjangkau. Oli sintetis memang dikenal mahal karena proses pembuatannya yang lebih rumit dibandingkan dengan biaya mengolah oli mineral.
Banyak produk dari Prestasi Lubricants yang merupakan jenis pelumas cair, seperti oli motor, minyak rem, air radiator, dan lain sebagainya.

2.  Pelumas Semi-Cair (Grease)
Grease, atau yang dalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan sebutan "gemuk", memiliki karakteristik khas, yang membuatnya sangat cocok digunakan pada sebuah sistem mekanis yang hanya bisa dilubrikasi secara berkala, serta sistem yang tidak mungkin dapat dilubrikasi oleh oli. Grease juga berfungsi sebagai sealent untuk mencegah masuknya air atau material lain ke dalam sistem mesin.
Prestasi Lubricants juga memproduksi pelumas semi-cair (gemuk) untuk kendaraan bermotor anda.

3.  Pelumas Padat
Pelumas padat atau juga dikenal dengan pelumas kering memiliki gaya gesekan rendah. Masing-masing lapisan molekul dapat bergeser relatif terhadap lapisan yang lain hanya dengan sedikit gaya saja. Bahan yang paling banyak dikenal sebagai pelumas padat yaitu grafit.
Grafit banyak digunakan di kompresor udara, industri makanan, sambungan rel kereta, roda gigi terbuka, ball bearing, serta alat-alat perbengkelan. Grafit juga lazim digunakan pada gembok dan mesin kunci. Hal ini dilakukan karena jika digunakan oli untuk melumasi mesin kunci, debu-debu di udara justru mudah menempel dan akan cepat merusak komponen-komponen mesin.

B.  Sifat-Sifat Pelumas
1.    Viskositas
Viskositas atau kekentalan didefinikan sebagai tahanan fluida untuk mengalir. Makin tinggi viskositas, makin sulit fluida tersebut untuk mengalir (makin kental). Satuan viskositas adalah centistokes (cSt) atau mm²/s.
Viskositas dipengaruhi oleh temperatur dan tekanan. Untuk menunjukkan ketahanan viskositas terhadap perubahan temperatur pada tekanan atmosfer, dipakai indikator yang disebut viscosity index (VI), dimana perubahan viskositas diukur pada temperatur 40°C dan 100°C. Pelumas yang stabil (tidak banyak mengalami perubahan viskositas dengan adanya perubahan. temperatur) mempunyai VI yang tinggi, dan sebaliknya.

2.    Pour Point
Pour point atau titik tuang adalah temperatur terendah dirnana pelumas masih dapat mengalir.

3.    Stabilitas terhadap oksidasi
Sifat ini sangat penting bagi semua pelumas, terutama untuk penggunaan pada temperatur tinggi.

4.    Total Base Number
Total Base Number (TBN) menunjukkan kernarnpuan pelumas menetralisasi asam hasil oksidasi, kemampuan detergensi dan dispersansi guna mernbersilikan mesin dari kotoran atau deposit yang terbentuk dari hasil pernbakaran bahan bakar maupun hasil oksidasi pelurnas itu. sendiri.

5.    Total Acid Number
Total Acid Number (TAN) menunjukkan tingkat keasarnan yang berasal dari aditif (untuk Fresh Oil). Peningkatan nilai TAN pada pelurnas yang telah digunakan untuk mengindikasikan terbentuknya asarn lemah dalarn pelurnas dan pada nilai tertentu menunjukkan tanda bahwa pelurnas sudah tidak dapat digunakan lagi.

6.    Sifat anti karat
Sifat ini penting bila pelumas terkontarninasi air dalarn sistern peralatan atau mesin. Partikel karat dalarn pelumas dapat berfungsi sebagai katalis untuk mempercepat oksidasi pelurnas, bersarna kontarninan lain dalarn sistem sirkulasi, karat dapat menyumbat filter atau "Servo Valve".

7.    Demulsibility
Demulsibility adalah sifat kemudahan untuk terpisah dari air. Sifat ini penting bagi pelurnas turbin, hidrolik, kornpressor, sistern sirkulasi dan pelurnas mesin diesel putaran menengah sampai lambat yang dilengkapi dengan water separator.

8.    Flash Point dan Fire Point
Flash point atau titik nyala adalah temperatur minimum pelumas yang dapat menguap pada tekanan atmosfer sehingga dapat menyala bila didekatkan pada api. Fire point atau titik bakar adalah temperatur minimum dimana uap pelumas cukup banyak dan dapat terbakar. Fire point pelumas biasanya 30°C diatas flash point-nya.

9.    Copper Strip Corrosion
Sifat ini digunakan secara luas untuk mengevaluasi pengaruh korosi pelumas terhadap tembaga karena umumnya mesin atau peralatan industri mengandung bagian metal yang terbuat dari tembaga.

10.    Densitas
Densitas adalah perhandingan berat dengan volume. Karena volume berubah terhadap tekanan dan suhu, maka densitas demikian pula. Densitas penting untuk menghitung volume menjadi satuan berat atau sebaliknya guna perhitungan biaya angkutan.
Secific Gravity (SG) atau berat jenis pelumas adalah perbandingan antara densitas pelumas terhadap densitas air. Sebagai standar, untuk pelumas digunakan SG pada 15/4°C, yang berarti pelumas diukur pada suhu 15°C, sementara air diukur pada suhu 4°C, keduanya pada tekanan atmosfer.
11.    Warna
Warna pelumas secara normal tidak ada hubungannya dengan sifat-sifat pelumasan kecuali untuk melihat adanya kontaminasi atau sebagai petunjuk untuk kesamaan dari produk bersangkutan.

C. Bahan Aditif Pelumas
- Anti Oksidan, fungsinya untuk mencegah terjadinya proses oksidasi pada molekul pelumas.
- Detergent, untuk menjaga permukaan logam agar bebas dari kotoran.
- Dispersant, mengendalikan dan membawa kotoran agar terdispersi merata dalam pelumas.
- Anti karat atau korosi, untuk mencegah terjadinya karat pada bagian logam yang berhubungan dengan pelumas.
- Anti wear, mencegah gesekan dan keausan permukaan mesin.
- Friction modifier, untuk meningkatkan tingkat kelicinan film pelumas.
- Pour point despressant, mampu menjadikan pelumas tetap mudah mengalir pada temperatur rendah.
- Anti foam, mencegah terbentuknya busa ada pelumas.
- Viscosity improver, untuk menjaga viskositas oli pada suhu rendah dan tinggi. (motor.otomotifnet.com)

D.    Sistem Pelumasan Mesin

Pelumasan Celup
Pelumas jenis ini hanya efiesien untuk kecepatan rendah dan sering kali digunakan untuk pelumasan pada kotak roda gigi.
Penutup bak oli harus betul-betul baik, sehingga tidak terjadi kebocoran.

Pelumasan Percikan
Komponen bergerak yang ada di dalam gearbox tertutup.Selama berputar, komponen ada saat tercelup ke dalam oli sehingga timbul percikan oli sehingga melumasi komponen lainnya.Permukaan oli dapat diperiksa dengan melihat pada glass indicator-nya.

Pelumasan Sirkulasi
Komponen yang bergerak terletak di dalam gearbox tertutup.Sejumlah oli dimasukkan ke dalam suatu tangki khusus yang disirkulasikan  oleh sebuah pompa oli.
Sirkulasi oli dapat dikontrol melalui indicator

Pelumasan Tetesan
Pelumasan ini menggunakan pemberian oli secara periodik pada bantalan. Mangkuk tertutup berisi oli dihubungkan dengan pipa yang menuju bantalan. Klep jarum dipergunakan untuk mengatur aliran oli.

Pelumasan kabut
Aliran pelumas ke komponen yang bergerak diperoleh dari udara kompresor kering yang dihembuskan sehingga terjadi pengabutan.

Pelumasan mangkok grease
Salah satu contoh pelumasan bantalan dengan grease/gemuk. Sebuah mangkuk diisi grease, lalu ditekan dengan handle pemutar ulir.

Pelumasan pistol
Grease gun digunakan untuk memompakan grease melalui nipple.
Perlu diperhatikan penggunaan pelumas ini, tidak semua nipple diberi grease.

Pelumasan sendiri (langsung, via kapiler)
Pelumasan sendiri terbagi menjadi dua :
1. Langsung, metode pelumasan ini digunakan untuk mesin-mesin kecepatan rendah dimana beban bantalan ringan. Grease diberikan langsung pada bantalan.
2. Via Kapiler, bantalan dibuat dari bahan yang berpori yang dapat diresapi oli hingga masuk ke dalam. Apabila bantalan berputar, oli akan merembes keluar dan melumasi permukaan .

DAFTAR PUSTAKA :



Minggu, 07 Januari 2018

Rangkuman 5 jurnal

ANALISIS GETARAN PADA BANTALAN LUNCUR,PADA KABIN MOBIL,SAYAP PESAWAT DAN POROS SENTRIFUGAL

ABSTRAK

Getaran yang timbul pada poros pompa sentrifugal adalah satu fenomena yang terjadi akibat dari jarak antara kedua kopling, tebal dan lebar sabuk serta konfigurasi posisi pemasangan sabuk pada kopling. Getaran banyak dipakai sebagai alat untuk melakukan analisis terhadap mesin-mesin baik dengan gerak maupun translasi. Pengetahuan akan getaran dan data-data yang dihasilkan sangat penting untuk perawatan maupun troubleshooting. Kemampuan ini bisa membantu perusahaan mereduksi terjadinya downtime dan dapat meningkatkan keuntungan baik dari segi produksi maupun dari umur mesin yang lebihpanjang. Getaran yang timbul akibat gaya siklik melalui elemen-elemen mesin yang ada, dimana elemen-elemen tersebut saling beraksi satu sama lain dan energi didesifikasi melalui struktur dalam bentuk getaran. Dampak dari getaran adalah terjadinya suara bising, turunnya kinerja dan performa pompa serta dapat merusak komponen pada pompa terutama pada poros dan bantalan. Pada penelitian ini divariasikan, jarak kopling, tebal dan lebar sabuk serta konfigurasi posisi pemasangan sabuk pada kopling. Dengan variasi tersebut dapat diamati dan diketahui perilaku getaran yang terjadi dengan cara mengukur dengan mengunakan alat akur getaran vibrometer VQ-400-A OMETRON yang terhubung dengan labjak U3-LV diteruskan ke PC dalam bentuk tegangan listrik digital ke tegangan listrik analog. Model ini mengukur getaran pada arah horizontal atau sumbu X dimana titik fokus laser pada poros pompa yang berputar. Untuk menampilkan hasil pengukuran digunakan labjak yang terhubung ke PC laptop. Penelitian ini menunjukkan bahwa sabuk dengan ukuran 4,5 mm dan lebar 98 mm dengan jarak flens 7,5 cm dengan posisi pemasangan sabuk luar dalam adalah yang paling baik dimana getaran yang dihasilkan cukup rendah 1,38 mm. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi dalam pemilihan ukuran sabuk, jarak antara kedua kopling serta model konfigurasi pemasangan sabuk yang paling baik pada kopling flens.

PENDAHULUAN
Perkembangan industri dan penggunaan mesin-mesin industri yang pesat mendorong terus dilakukannya inovasi teknologi yang canggih dan modernis, konsekwensinya teknologi tersebut semakin mahal. Penerapan dan penggunaannya diharapkan dapat meminimalisir kerusakan mesin akibat getaran. Frekwensi getaran secara fisik apabila tidak terkendali dapat menimbulkan kondisi bising pada saat pengoperasian mesin dan amplitudo getaran tak terkendali tampak pada goyangan mesin yang tak beraturan. Model flywheel dengan material berbeda sebagai beban berputar dapat dijadikan sebagai bahan kajian getaran, merupakan representasi model mesin-mesin industri yang seringkali mengalami kerusakan. Kerusakan yang terjadi dari mesin-mesin industri menjadi sebab terhentinya pengoperasian mesin, akibatnya terhentinya proses produksi “Down Time”, terbuangnya jam kerja karyawan dan pengeluaran biaya perawatan dan perbaikan yang mahal pada dunia industry (Tungga, 2011). Kerusakan mesin-mesin yang diakibatkan tingginya getaran mesin yang dapat menyebabkan berbagai keadaan yang abnormal seperti mengendornya baut-baut, bagianbagian mesin cepat aus, shaft menjadi misaligned, rotor menjadi unbalance, dll. Kondisi tersebut diatas akan menaikkan energi yang terdissipasi karena getaran, menyebabkan resonansi dan beban dinamis pada bantalan. Sebab akibat yang terjadi seterusnya akan
menyebabkan mesin segera menuju kepada kerusakan (break down) yang menyebabkan mesin harus dimatikan atau otomatis dapat mati dengan sendirinya karena adanya proteksi pada sistem listrik atau instrumentasinya (Fausan, 2007). Getaran juga dapat timbul akibat keadaan tak seimbang yang terjadi apabila pusat massa sistem berputar tidak berimpit dengan titik pusat perputaran, hal ini karena beberapa
sebab misalnya bahan yang tidak homogen dan perubahan posisi ketidakseimbangan dapat terjadi pada suatu bidang (disebut static unbalance) atau pada beberapa bidang (couple unbalance). Gabungan keduanya disebut dinamic unbalance. Dalam keadaan unbalance sebuah vektor gaya yang berputar dengan poros menimbulkan getaran dengan frekuensi satu per putaran. Karakteristik ini sangat penting untuk membedakan unbalance dengan cacat atau kerusakan yang menghasilkan getaran serupa dengan getaran satu per putaran. Kerusakan akibat cacat yang sering disangka dari rotor biasanya mempunyai harmonik tingkat tinggi, tetapi perlu diingat bahwa bila gaya balancenya tak besar, harmonik tingkat tinggi dapat terjadi. Hal yang sama terjadi pula bila kekakuan bantalan dalam arah vertikal dan horizontal jauh berbeda, karena gaya unbalance merupakan vektor berputar maka fasa getarannya relatif terhadap keyphasior tergantung pada lokasi transducernya. Amplitudo dalam hal ini sedikit berubah (Tobing, 2009).


A.    Kopling
Kopling adalah merupakan suatuelemen mesin yang berfungsi sebagai penerus putaran dan daya dari poros penggerak ke poros yang digerakkan secara pasti (tanpa terjadi slip), dimana sumbu kedua poros tersebut terletak pada satu garis lurus atau dapat sedikit berbeda sumbunya. Berbeda dengan kopling tak tetap yang dapat dilepaskan dan dihubungkan bila diperlukan, maka kopling tetap selalu dalam keadaan terhubung (Sularso dan Suga, 1997). Kopling yang akan direncanakan pada penelitian ini adalah kopling sabuk yang dapat meneruskan putaran dan daya antara poros penggerak dengan poros yang digerakkan dengan getaran yang dihasilkan cukup kecil dan fleksibel, hal ini disebabkan karena tidak mengharuskan poros terletak pada garis lurus atau satu sumbu. Indikasi kecilnya getaran yang terjadi pada poros pompa dapat dirasakan dimana tingkat kerusakan pada poros pompa dan bantalan yang kecil. Respon vibrasi dari suatu pompa merupakan salah satu indikator yang menunjukkan kondisi mekanis dari suatu pompa. Kopling yang digunakan dalam penelitian ini adalah kopling sabuk yang dirancang dengan menggunakan sabuk yang diikat dengan menggunakan baut dan mur dihubung antara kopling pada poros motor dengan kopling pada poros pompa.
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1.     Umum
Untuk mendeteksi fenomena getaran
yang terjadi pada poros pompa
sentrifugal dengan menggunakan sistim
penyambungan kopling flens sabuk
yang sebagai penerus putaran dan daya.
      2.  Khusus
1. Menganalisa getaran yang terjadi pada
poros pompa dengan variasi jarak
masing-masing kopling.
2. Menganalisa getaran yang terjadi pada
poros pompa dengan variasi tebal dan
lebar sabuk.
3. Menganalisa getaran yang terjadi pada
poros pompa dengan konsfigurasi
posisi pemasangan sabuk pada kopling.
4. Membandingkan dengan sambungan
flens tetap.
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1. Sinyal getaran dapat dijadikan sebagai
acuan untuk mendeteksi dini getaran
yang terjadi pada poros pompa
sentrifugal.
2. Memberikan informasi mengenai
metode pengujian fenomena getaran
pada poros pompa sentrifugal dan
sebagai acuan untuk menghindari
terjadinya getaran yang lebih besar.

B.    Penelitian ini dilakukan dengan menguji sistem getaran pada lima kecepatan yang berbeda
pada bantalan luncur dengan kondisi pelumasan yang bervariasi mulai dari kekentalan dan kecepatan
alirannya. Pembahasan data hasil spektrum getaran dilakukan dengan kecepatan putaran 1200 rpm
sampai dengan 4300 rpm yang diatur dengan menggunakan inverter dan untuk melihat kecepatan
putaran yang sesungguhnya pada poros output menggunakan stroboscope.


Kesimpulan :
Berdasarkan hasil perhitungan perancangan , pengujian eksprimental getaran dan
melakukan analisa dengan metode elemen hingga pada alat peraga getaran tersebut maka
dapat disimpulkan bahwa rancangan alat peraga getaran telah memenuhi standar ASME,
Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu mendeteksi fenomena getaran yang
terjadi pada pompa sentrifugal dengan menggunakan sinyal getaran, makaberdasarkan hasil pembahasan dan analisa dapat disimpulkan bahwa variasi jarak flens , tebal dan lebar sabuk serta konfigurasi posisi pemasangan sabuk menghasilkan tingkat getaran yang berbeda dimana, hasil penelitian
menunjukkan bahwa :
1. Analisa getaran yang terjadi pada poros
pompa dengan variasi jarak flens 7,5
cm antara kedua kopling flens sabuk
adalah simpangan yang terkecil
dibandingkan dengan jarak 5,5 cm dan
6,5 cm.
2. Analisa getaran yang terjadi pada poros
pompa dengan variasi tebal dan lebar
sabuk dengan ukuran tebal 4,5 mm dan
lebar 98 mm adalah simpangan yang
terkeci dibandingkan dengan tebal 6
mm lebar 120 mm dan tebal 7,5 mm
lebar 145 mm.
3. Analisa getaran yang terjadi pada poros
pompa dengan konfigurasi posisi
pemasangan sabuk luar-dalam pada
kopling adalah yang terbaik
dibandingkan dengan posisi dalamdalam.
Hasil analisa getaran secara keseluruhan
dapat disimpulkan bahwa sabuk dengan
ukuran tebal 4,5 mm dan lebar 98 mm
dengan jarak flens 7,5 cm dengan
pemasangan luar-dalam adalah yang paling
baik dimana simpangan getaran yang
dihasikan cukup rendah yaitu : 1,38 mm.


Kamis, 02 November 2017

Flowchart Metodologi Penelitian Perancangan

           

Gambar. metodologi Perancangan.

Penjelasan berdasarkan flowchart di atas

1.      Menentukan Tema Perancangan
            Hal yang paling awal penentuan tema dari perancangan yang ingin dibuat.sehingga tema ini mewakili seluruh pikiran utama ke arah mana alat ini yang akan dibuat.
Identifikasi dan Analisa Kebutuhan
            Alat yang akan dibutuhkan sebaiknya memenuhi beberapa kriteria
Contoh :
1.      Mudah digunakan sehari –hari
2.      Bahan harus memiliki kualitas yang baik sehingga pada saat terkena anak kecil tidak membahayakan.
3.      Dapat dilihat dengan menarik
2.      Pembatasan permasalahan
            Alat yang akan dibuat hanya untuk simulasi fenomena dengan campuran thermoplastic,serat carbon dan resin dengan panjang 20 cm dan lebar 5 cm.
3.      Studi Literatur
            Digunakan untuk memahami dasar – dasar teori yang berhubungan dengan produk yang akan dibuat. Sehingga dapat memberi gambaran pembuatan desain mainan
4.      Membuat konsep desain awal
            Segala pemikiran ataupun ide- ide yang dituangkan dalam suatu desain awal yang disebut sketsa awal gambar.
5.      Analisa Desain Awal
            Dari desain awal yang telah dibuat, dianalisa untuk mengetahui berbagai kemungkinan dalam pengerjaanya,apakah bisa digunakan,kendala,cara mengatasinya, kemudian alternatifnya.
6.      Membuat Desain Ahkir
            Setelah desain awal di analisa kemudian ditemukan model apa yang akan dibuat selnjutnya, maka desain akhirlah yang akan dibuat sebagai acuan dalam pembuatan suatu produk.
7.      Inventarisasi Komponen
            Untuk mendata part-part apa saya yang sudah tersedia dalam pembuatan produk.
8.      Pembuatan Urutan Pengerjaan
            Urutan pengerjaan perlu dibuat untuk mempermudah dalam pembuatan produk, sehingga urutan proses pengerjaanya sistematis.
9.      Pengadaan Komponen
            Komponen yang belum ada harus disediakan karena menyangkut kesiapaan alat.
10.  Pembuatan Alat
            Setelah semua tersedia,termasuk alat perlengkapanya yang akan dipakai maka langkah selanjutnya adalah pembuatan dan perakitan produk.membutuhkan waktu yang lama.
11.  Trial Alat
            Usaha ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan alat uji yang telah dibuat apakah sudah memenuhi keinginan apa belum, maka perlu di test untuk menghasilkan suatu produk yang baik.
12.  Analisa Kegagalan dan Tindakan Perbaikan
            Tidak selamanya trial alat bisa langsung mendapatkan hasil yang memuaskan oleh karenanya apabila ditemukan hasil yang kurang baik maka perlu ada analisa kegagalan, tindakan perbaikan.
13.  Analisa Kerja Alat
            Dalam pengambilan data kita bisa mengetahui apakah alat uji bisa berfungsi dengan baik dengan melihat hasil/data yang ambil. Apakah adanya penyimpangan yang cukup signifikan diantara data-data yang sama/hasil yang diambil merupakan data relatif sama.
14.  Kesimpulan
            Setelah semua data telah diambil dilakukan analisa terhadap hasil pengujian, maka akan didapat suatu kesimpulan yang bisa diambil berdasarkan data-data yang telah ada.

Sumber :
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/126780-R220809-Rancan%20bangun-Metodologi.pdf